Rabu, 23 Agustus 2017

PENGERTIAN DAN MACAM – MACAM SUDUT

PENGERTIAN DAN MACAM – MACAM SUDUT 
Sudut adalah pertemuan/ perpotongan dua garis yang dilambangkan () . sudut merupakan bangun yang bersisi dua dan sisi-sisinya bersekutu pada salah satu ujungnya. Sisi-sisi sudut terbentuk dari ruas-ruas garis. Titik persekutuannya disebut titik sudut. Sisi sudut juga disebut kaki sudut. Jika memberi nama sudut, huruf pada titik sudut terdapat ditengah. Contoh Sudut ABC ditulis ABC atau B, A, dan C . sudut juga dapat dimaksud dengan bidang bagian yang dibatasi oleh dua sinar garis yang berpotongan disatu titik .

<ABC = <CBA
B disebut titik sudut
BA dan BC adalah kaki kaki sudut
ABC adalah titik sudut

1) Sudut Lancip
Sudut B kurang dari 90 derajat
Sudut B sama dengan sudut lancip (kurang dari 90 derajat)
0 < b < 90
Sudut B kurang dari sama dengan 90 derajat
Sudut B sama dengan sudut siku-siku (90 derajat)
b = 90

3) Sudut Tumpul
Sudut B lebih dari 90 derajat
Sudut B sama dengan sudut tumpul (lebih besar dari 90 derajat tetapi kurang dari 180 derajat)
90 < b < 180


4) Sudut Lurus/Garis Lurus
Sudut B sama dengan 180 derajat
Sudut B sama dengan sudut lurus 180 derajat
b = 180



Cara mengukur besarnya sudut dengan busur :
1.     Letakan menempel garis 0° pada busur kesalah satu salah satu ruas garis yang akan diukur besar sudutnya .
2.    Letakan titik pusat busur (titik pusat  lingkaran) pada titik sudut dan ruas garis yang lain terletak didalam busur .
3.    Ukur besar sudutnya dengan menggunakan skala busur .


Rabu, 26 April 2017

LANDORUNDUN (Cerita Rakyat Sulawesi Selatan)

                   Dahulu kala ada seorang gadis yang cantik dan memiliki rambut yang sangat panjang. Gadis tersebut bernama Landorundun. Pada suatu hari, Landorundun pergi mandi di sungai Sa’dan di dekat Rantepao ( Toraja bagian Utara ). Setelah selesai mandi, ia naik ke atas sebuah batu besar yang ada di tengah sungai. Ia menjemur badan sambil menyisir rambutnya yang sangat panjang. Rambutnya rontok, tidak ia buang melainkan ia gulung dan diletakkan di atas batu. Tiba- tiba air sedikit meluap ke atas batu dan rambut Landorundun yang rontok dan telah digulung terbaa air. Ia berusaha meraih rambut itu namun karena derasnya air sungai, rambut itu tidak bisa ia dapatkan. Landorundun sangat kecewa dan sedih.

                   Suatu ketika, seorang nelayan Bugis namanya Beddurana sedang bersantai di atas perahu kayunya di tepi pantai. Saat itu, Beddurana melihat ada benda aneh di tengah laut. Beddurana kaget karena benda itu meski sangat kecil namun kilauannya dapat dilihat dari jarak yang sangat jauh dari pantai. Ia sangat tertarik terhadap benda aneh itu, lalu menyuruh ketiga anak buahnya yang sakti- sakti untuk mengambil benda tersebut. Namun apa yang terjadi, ketiga anak buahnya tidak dapat mengambil benda itu.

                   Beddurana heran dan kesal dengan kejadian ini. Maka ia sendirian langsung mengambil benda tersebut. Pada saat Beddurana akan mengambil, terjadi keajaiban, ia bisa berjalan di atas air dan kakinya sama sekali tidak basah. Benda itu berhasil diraihnya, dan setelah di bawa ke pantai dan diamati baik-baik, ternyata benda itu adalah gulungan rambut wanita yang sangat panjang. Beddurana melilitkan rambut tersebut di badannya. Setelah sampai lilitan ke tujuh, rambut tersebut masih tersisa tujuh depa dan sepuluh jengkal. Beddurana sangat heran menyaksikan rambut sepanjang itu.

                   Dalam keadaan heran Bedurana menengadah ke langit. Tiba- tiba di balik awan, muncullah serombongan burung Kalupppini (Walet). Beddurana mengamati burung- burung tersebut dan saat itu burung- burung memberi petunjuk kepada Beddurana akan pemilik rambut panjang yang ajaib itu. Burung- burung itu terbang menuju utara sambil menyusur Sungai Sa’dan. Beddurana yang telah mendapat petunjuk, ikut menuju utara dengan perahu kayunya. Berhari- hari burung itu bersama Beddurana menyusuri sungai. Menjelang hulu sungai Beddurana kehilangan jejak sebab burung- burunng itu terbang lebih cepat. Namun burung-burung itu menghampiri Beddurana  dan kembali memberi petunjuk. Setelah sampai di Tikala, ia menyandarkan perahunya dan menanam sebuah pohon mangga.

                   Sesudah itu, Beddurana melanjutkan perjalanan sampai  di sebuah tempat namanya “Bubun Batu” (Sumur Batu ).Di tempat itu Beddurana berjumpa dengan Landorundun. Dalam perjumpaan itu Landorundun bertanya “Apa gerangan yang mendorong kamu berlayar sampai di sini ? Adakah engkaku memmberi piutang dan sekarang datang menagih?
Lalu Beddurana menjawab,” Saya tidak berpiutang, pada siapapun. Aku kemari hendak menyampaikan rambut ajaib milik sang putrid. Aku terkesan, aku tertarik hendak mempersunting sang bidadari.”
Dan Landorundun berkata,”Tiada guna, tiada manfaat kau mendekati aku! Ibu belum rela aku meninggalkan negeri ini. Berpisah menuju Negeri Bone asal-usulmu!

                   Setelah mendengar jawaban itu, Beddurana sangat kecewa berat. Lalu ia turun dari perahu dan pergi menanam mangga ajaib di dekat tempat tinggal Landorundun. Mangga itu dalam beberapa hari saja sudah berbuah lebat. Suatu hari Landorundun hendak turun sungai untuk mandi. Saat itu Landorundun tergiur melihat mangga Beddurana yang sudah mulai masak. Landorundun tidak menyangka jika diintip Beddurana. Tidak lama setelah Landorundun mengambil buah mangga itu, tiba- tiba Beddurana muncul di dekat pohon mangga dan berpura-pura menghitung buah mangganya.

                   Lalu ia menyindir Landorundung yang telah memetik buah mangganya tetapi Landorundun menyangkal dan berkata bahwa mangga tersebut disantap penggembala dan di makan binatang malam. Mendengar jawaban Landorundun, Beddurana mengumpulkan dan menanyakan ke anak gembala “kami tidak mengambil mangga, Tuan ! Tanyalah pada perempuan itu. Dia baru saja kami lihat memetik beberapa buah,” jawab anak gembala itu.

                   Setelah mendengar kesaksian anak gembala itu akhirnya Landorundun mengaku. “Akulah yang sebenarnya mengambil mangga itu, karena itu terserah padamu hukuman apa yang harus aku terima.”
“Aku tidak akan menghukum, tetapi aku harapkan hari ini kita berangkat ke Bone, negeri asal-usulku. Kau akan saya jadikan istri”.
                   Karena Beddurana sudah tahu, Landorundun tidak mungkin berangkat bila diketahui orang tuanya, maka ia memperdaya Ibu Landorundun. Ia memainkan alat music kecapi yang dibawanya dari negeri Bugis sambil bernyanyi merdu. Saat mendengar bunyi kecapi itu, Ibu Landorundun tertidur pulas. Saat itulah, Beddurana berhasil melarikan Landorundun.

                   Saat ibu Landorundun terbangun, ia baru sadar kalau telah diperdaya Beddurana. Landorundun telah menghilang. Ibu itu hanya pasrah pada Yang Maha Kuasa. Ia tidak mungkin lagi mengejar Putri kesayanganya. Ia hanya berdoa, mudah-mudahan anaknya selamat dan kelak bisa kembali dalam keadaan sehat. Sesampainya di Bone, Landorundun selalu merenung dan ingin kembali ke Toraja. Sampai di pernikahan,Landorundun kelihatan murung terus. Untuk itulah penduduk setempat berusaha membuat ulah dengan membawa seekor burung gagak ke halaman rumah. Burung gagak itu jalannya pincang sebab kakinya telah dipotong.

Melihat peristiwa itu kemudian Landorundun tertawa kegirangan. Mulai saat itulah, Landorundun merasa bahagia hidup di negeri orang bersama Beddurana suaminya. Ia pun membawa ibunya ke negeri Bone.Di sana Ibu Landorundun merasa berbahagia pula sebab diterima dengan sangat baik oleh keluarga Beddurana. Mulai saat itu, terjadi hubungan yang sangat harmonis antara keluarga Beddurana dan keluarha Landorundun di Toraja.

                   Kegigihan dan ketekunan dalam mempertahankan cinta  Beddurana terhadap isterinya Landorundun  sangat luar biasa. Hasilnya adalah kedua belah pihak keluarga menjadi harmonis.


Jumat, 07 April 2017

La Dana dan Kerbaunya

La Dana dan Kerbaunya

La Dana adalah seorang anak petani dari Toraja. Ia sangat terkenal akan kecerdikannya. Kadangkala kecerdikan itu ia gunakan untuk memperdaya orang. Sehingga kecerdikan itu menjadi kelicikan.

Pada suatu hari ia bersama temannya diundang untuk menghadiri pesta kematian. Sudah menjadi kebiasaan di tanah toraja bahwa setiap tamu akan mendapat daging kerbau. La Dana diberi bagian kaki belakang dari kerbau. Sedangkan kawannya menerima hampir seluruh bagian kerbau itu kecuali bagian kaki belakang.
Lalu La Dana mengusulkan pada temannya untuk menggabungkan daging-daging bagian itu dan menukarkannya dengan seekor kerbau hidup. Alasannya adalah mereka dapat memelihara hewan itu sampai gemuk sebelum disembelih. Mereka beruntung karena usulan tersebut diterima oleh tuan rumah.

Seminggu setelah itu La Dana mulai tidak sabar menunggu agar kerbaunya gemuk. Pada suatu hari ia mendatangi rumah temannya, dimana kerbau itu berada, dan berkata “Mari kita potong hewan ini, saya sudah ingin makan dagingnya.” Temannya menjawab, “Tunggulah sampai hewan itu agak gemuk.” Lalu La Dana mengusulkan, “Sebaiknya kita potong saja bagian saya, dan kamu bisa memelihara hewan itu selanjutnya.” Kawannya berpikir, kalau kaki belakang kerbau itu dipotong maka ia akan mati. Lalu kawannya membujuk La Dana agar ia mengurungkan niatnya. Ia menjanjikan La Dana untuk memberinya kaki depan dari kerbau itu.
Seminggu setelah itu La Dana datang lagi dan kembali meminta agar bagiannya dipotong. Sekali lagi kawannya membujuk. Ia dijanjikan bagian badan kerbau itu asal La Dana mau menunda maksudnya. Baru beberapa hari berselang La Dana sudah kembali kerumah temannya. Ia kembali meminta agar hewan itu dipotong.
Kali ini kawannya sudah tidak sabar, dengan marah ia pun berkata, “Kenapa kamu tidak ambil saja kerbau ini sekalian! Dan jangan datang lagi untuk mengganggu saya.” La dana pun pulang dengan gembiranya sambil membawa seekor kerbau gemuk.


Putri Tadampalik

Putri Tadampalik

Dahulu, terdapat sebuah negeri yang bernama negeri Luwu, yang terletak di pulau Sulawesi. Negeri Luwu dipimpin oleh seorang raja yang bernama La Busatana Datu Maongge, sering dipanggil Raja atau Datu Luwu. Karena sikapnya yang adil, arif dan bijaksana, maka rakyatnya hidup makmur. 

Sebagian besar pekerjaan rakyat Luwu adalah petani dan nelayan. Datu Luwu mempunyai seorang anak perempuan yang sangat cantik, namanya Putri Tadampalik. Kecantikan dan perilakunya telah diketahui orang banyak. Termasuk di antaranya Raja Bone yang tinggalnya sangat jauh dari Luwu. 


Raja Bone ingin menikahkan anaknya dengan Putri Tadampalik. Ia mengutus beberapa utusannya untuk menemui Datu Luwu untuk melamar Putri Tadampalik. Datu Luwu menjadi bimbang, karena dalam adatnya, seorang gadis Luwu tidak dibenarkan menikah dengan pemuda dari negeri lain. Tetapi, jika lamaran tersebut ditolak, ia khawatir akan terjadi perang dan akan membuat rakyat menderita. Meskipun berat akibat yang akan diterima, Datu Lawu memutuskan untuk menerima pinangan itu. 


"Biarlah aku dikutuk asal rakyatku tidak menderita," pikir Datu Luwu. 


Beberapa hari kemudian utusan Raja Bone tiba ke negeri Luwu. Mereka sangat sopan dan ramah. Tidak ada iringan pasukan atau armada perang di pelabuhan, seperti yang diperkirakan oleh Datu Luwu. Datu Luwu menerima utusan itu dengan ramah. Saat mereka mengutarakan maksud kedatangannya, Datu Luwu belum bisa memberikan jawaban menerima atau menolak lamaran tersebut. Utusan Raja Bone memahami dan mengerti keputusan Datu Luwu. Mereka pun pulang kembali ke negerinya. 


Keesokan harinya, terjadi kegaduhan di negeri Luwu. Putri Tadampalik jatuh sakit. Sekujur tubuhnya mengeluarkan cairan kental yang berbau anyir dan sangat menjijikkan. Para tabib istana mengatakan Putri Tadampalik terserang penyakit menular yang berbahaya. 

Berita cepat tersebar. Rakyat negeri Luwu dirundung kesedihan. Datu Luwu yang mereka hormati dan Putri Tadampalik yang mereka cintai sedang mendapat musibah. Setelah berpikir dan menimbang-nimbang, Datu Luwu memutuskan untuk mengasingkan anaknya. Karena banyak rakyat yang akan tertular jika Putri Tadampalik tidak diasingkan ke daerah lain. 


Keputusan itu dipilih Datu Luwu dengan berat hati. Putri Tadampalik tidak berkecil hati atau marah pada ayahandanya. Lalu ia pergi dengan perahu bersama beberapa pengawal setianya. Sebelum pergi, Datu Luwu memberikan sebuah keris pada Putri Tadampalik, sebagai tanda bahwa ia tidak pernah melupakan apalagi membuang anaknya. 


Setelah berbulan-bulan berlayar tanpa tujuan, akhirnya mereka menemukan sebuah pulau. Pulau itu berhawa sejuk dengan pepohonan yang tumbuh dengan subur. Seorang pengawal menemukan buah Wajo saat pertama kali menginjakkan kakinya di tempat itu. 

"Pulau ini kuberi nama Pulau Wajo," kata Putri Tadampalik. Sejak saat itu, Putri Tadampalik dan pengikutnya memulai kehidupan baru. Mereka mulai dengan segala kesederhanaan. Mereka terus bekerja keras, penuh dengan semangat dan gembira. 


Pada suatu hari Putri Tadampalik duduk di tepi danau. Tiba-tiba seekor kerbau putih menghampirinya. Kerbau bule itu menjilatinya dengan lembut. Semula, Putri Tadampalik hendak mengusirnya. Tapi, hewan itu tampak jinak dan terus menjilatinya. Akhirnya ia diamkan saja. Ajaib! Setelah berkali-kali dijilati, luka berair di tubuh Putri Tadampalik hilang tanpa bekas. Kulitnya kembali halus dan bersih seperti semula. Putri Tadampalik terharu dan bersyukur pada Tuhan, penyakitnya telah sembuh. 


"Sejak saat ini kuminta kalian jangan menyembelih atau memakan kerbau bule, karena hewan ini telah membuatku sembuh," kata Putri Tadampalik pada para pengawalnya. Permintaan Putri Tadampalik itu langsung dipenuhi oleh semua orang di Pulau Wajo hingga sekarang. Kerbau bule yang berada di Pulau Wajo dibiarkan hidup bebas dan beranak pinak. 


Di suatu malam, Putri Tadampalik bermimpi didatangi oleh seorang pemuda yang tampan. "Siapakah namamu dan mengapa putri secantik dirimu bisa berada di tempat seperti ini?" tanya pemuda itu dengan lembut. Lalu Putri Tadampalik menceritakan semuanya. "Wahai pemuda, siapa dirimu dan dari mana asalmu ?" tanya Putri Tadampalik. Pemuda itu tidak menjawab, tapi justru balik bertanya, "Putri Tadampalik maukah engkau menjadi istriku?" Sebelum Putri Tadampalik sempat menjawab, ia terbangun dari tidurnya. Putri Tandampalik merasa mimpinya merupakan tanda baik baginya. 


Sementara, nun jauh di Bone, Putra Mahkota Kerajaan Bone sedang asyik berburu. Ia ditemani oleh Anre Guru Pakanranyeng Panglima Kerajaan Bone dan beberapa pengawalnya. 


Saking asyiknya berburu, Putra Mahkota tidak sadar kalau ia sudah terpisah dari rombongan dan tersesat di hutan. Malam semakin larut, Putra Mahkota tidak dapat memejamkan matanya. Suara-suara hewan malam membuatnya terus terjaga dan gelisah. Di kejauhan, ia melihat seberkas cahaya. Ia memberanikan diri untuk mencari dari mana asal cahaya itu. Ternyata cahaya itu berasal dari sebuah perkampungan yang letaknya sangat jauh. Sesampainya di sana, Putra Mahkota memasuki sebuah rumah yang nampak kosong. Betapa terkejutnya ia ketika melihat seorang gadis cantik sedang menjerang air di dalam rumah itu. Gadis cantik itu tidak lain adalah Putri Tandampalik. 


"Mungkinkah ada bidadari di tempat asing begini ?" pikir putra Mahkota. Merasa ada yang mengawasi, Putri Tandampalik menoleh. Sang Putri tergagap," rasanya dialah pemuda yang ada dalam mimpiku," pikirnya. 


Kemudian mereka berdua berkenalan. Dalam waktu singkat, keduanya sudah akrab. Putri Tadampalik merasa pemuda yang kini berada di hadapannya adalah seorang pemuda yang halus tutur bahasanya. Meski ia seorang calon raja, ia sangat sopan dan rendah hati. Sebaliknya, bagi Putra Mahkota, Putri Tadampalik adalah seorang gadis yang anggun tetapi tidak sombong. Kecantikan dan penampilannya yang sederhana membuat Putra Mahkota kagum dan langsing menaruh hati. 


Setelah beberapa hari tinggal di desa tersebut, Putra Mahkota kembali ke negerinya karena banyak kewajiban yang harus diselesaikan di Istana Bone. Sejak berpisah dengan Putri Tandampalik, ingatan sang Pangeran selalu tertuju pada wajah cantik itu. Ingin rasanya Putra Mahkota tinggal di Pulau Wajo. 


Anre Guru Pakanyareng, Panglima Perang Kerajaan Bone yang ikut serta menemani Putra Mahkota berburu, mengetahui apa yang dirasakan oleh anak rajanya itu. Anre Guru Pakanyareng sering melihat Putra Mahkota duduk berlama-lama di tepi telaga. Maka Anre Guru Pakanyareng segera menghadap Raja Bone dan menceritakan semua kejadian yang mereka alami di pulau Wajo. "Hamba mengusulkan Paduka segera melamar Putri Tandampalik," kata Anre Guru Pakanyareng. Raja Bone setuju dan segera mengirim utusan untuk meminang Putri Tadampalik. 


Ketika utusan Raja Bone tiba di Pulau Wajo, Putri Tadampalik tidak langsung menerima lamaran Putra Mahkota. Ia hanya memberikan keris pusaka Kerajaan Luwu yang diberikan ayahandanya ketia ia di asingkan. Putri Tadampalik mengatakan bila keris itu diterima dengan baik oleh Datu Luwu berarti pinangan diterima. 


Putra Mahkota segera berangkat ke Kerajaan Luwu sendirian. Perjalanan berhari-hari dijalani oleh Putra Mahkota dengan penuh semangat. Setelah sampai di Kerajaan Luwu, Putra Mahkota menceritakan pertemuannya dengan Putri Tadampalik dan menyerahkan keris pusaka itu pada Datu Luwu. 


Datu Luwu dan permaisuri sangat gembira mendengar berita baik tersebut. Datu Luwu merasa Putra Mahkota adalah seorang pemuda yang gigih, bertutur kata lembut, sopan dan penuh semangat. Maka ia pun menerima keris pusaka itu dengan tulus. 

Tanpa menunggu lama, Datu Luwu dan permaisuri datang mengunjungi pulau Wajo untuk bertemu dengan anaknya. Pertemuan Datu Luwu dan anak tunggal kesayangannya sangat mengharukan. Datu Luwu merasa bersalah telah mengasingkan anaknya. Tetapi sebaliknya, Putri Tadampalik bersyukur karena rakyat Luwu terhindar dari penyakit menular yang dideritanya. 


Akhirnya Putri Tadampalik menikah dengan Putra Mahkota Bone dan dilangsungkan di Pulau Wajo. Beberapa tahun kemudian, Putra Mahkota naik tahta. Beliau menjadi raja yang arif dan bijaksana. 


Kamis, 06 April 2017

Bilangan Romawi

Bilangan Romawi

Materi pelajaran Matematika untuk kelas 4 sekolah dasar salah satunya adalah membahas tentang Bilangan Romawi. Ada beberapa hal yang akan dibahas tentang Bilangan Romawi yaitu perkenalan lambang bilangan romawi, aturan penulisan lambang bilangan romawi.

A.    Lambang Bilangan Romawi
Secara umum, lambang bilangan romawi terdiri atas 7 angka yang dilambangkan dengan huruf seperti di bawah ini:
I           melambangkan bilangan 1
V         melambangkan bilangan 5
X         melambangkan bilangan 10
L          melambangkan bilangan 50
C         melambangkan bilangan 100
D         melambangkan bilangan 500
M         melambangkan bilangan 1.000
Untuk bilangan-bilangan yang lain, dilambangkan dengan perpaduan (campuran) dari ke tujuh bilangan tersebut.

B.     Aturan Penulisan Lambang Bilangan Romawi
         Aturan penulisan lambang bilangan romawi adalah sebagai berikut:
1.   Lambang bilangan yang sama hanya boleh ditulis berurutan paling banyak tiga kali.
Contoh :
a. III artinya I + I + I  =  1 + 1 + 1 = 3
b. XXX artinya X + X + X = 10 +1 0 + 10 = 30

2.  Bila lambang bilangan yang nilainya lebih kecil terletak di belakang (sebelah kanan), berarti penjumlahan
Contoh:
a.  VII artinya V + I + I = 5 + 1 + 1 = 7
b.  XIII artinya X + I + I + I = 10 + 1 + 1 + 1 = 13

3.   Bila lambang bilangan yang nilainya lebih kecil terletak di depan (sebelah kiri) berarti pengurangan.
Contoh:
a.  IV artinya V - I = 5 – 1 = 4
b.  XC artinya C - X = 100 -10 = 90

4.      Lambang V dan X hanya boleh dikurangi satu I,sedangkan
Contoh:
a.  IV artinya V - I = 5 – 1 = 4
b.  IX artinya X - I = 10 -1 = 9

5.     L dan C hanya boleh dikurangi satu X
Contoh:
a.       XL artinya L – X = 50 – 10 = 40
b.      XC artinya C – X = 100 – 10 = 90

6. .   Lambang M dan D hanya boleh dikurangi satu C.
Contoh:
a.  CD artinya D - C = 500 – 100 = 400
b.  CM artinya M - C = 1000 -1 00 = 900



34 Provinsi di Indonesia

34 Provinsi di Indonesia

A. Daftar Provinsi yang Ada di Sekitar Pulau Sumatra
1. Nanggroe Aceh Darussalam / NAD (Daerah Istimewa)
2. Sumatera Utara / Sumut
3. Sumatera Barat / Sumbar
4. Bengkulu
5. Riau
6. Kepulauan Riau / Kepri
7. Jambi
8. Sumatera Selatan / Sumsel
9. Lampung
10. Kepulauan Bangka Belitung / Babel

B. Daftar Provinsi yang Ada di Sekitar Pulau Jawa
11. DKI Jakarta / Daerah Khusus Ibukota Jakarta
12. Jawa Barat / Jabar
13. Banten
14. Jawa Tengah / Jateng
15. DI Yogyakarta / Daerah Istimewa Yogyakarta
16. Jawa Timur / Jatim

C. Daftar Provinsi yang Ada di Sekitar Pulau Kalimantan
17. Kalimantan Barat / Kalbar
18. Kalimantan Tengah / Kalteng
19. Kalimantan Selatan / Kalsel
20. Kalimantan Timur / Kaltim
21. Kalimantan Utara / Kaltara

D. Daftar Provinsi yang Ada di Sekitar Kepulauan Nusa Tenggara
22. Bali
23. Nusa Tenggara Barat (NTB)
24. Nusa Tenggara Timur (NTT)

E. Daftar Provinsi yang Ada di Sekitar Pulau Sulawesi
25. Sulawesi Barat / Sulbar
26. Sulawesi Utara / Sulut
27. Sulawesi Tengah / Sulteng
28. Sulawesi Selatan / Sulsel
29. Sulawesi Tenggara / Sultra
30. Gorontalo

F. Daftar Provinsi yang Ada di Sekitar Kepulauan Maluku
31. Maluku
32. Maluku Utara

G. Daftar Provinsi yang Ada di Sekitar Pulau Papua

33. Papua Barat
34. Papua

Jenis-jenis Cerita Fiksi dan Pengertiannya

Jenis-jenis Cerita Fiksi dan Pengertiannya
1.      Cerita jenaka adalah cerita yang membawa kesan yang menggembirakan dan gelihati kerana kelucuan.

2.      Mite (mitos) adalah cerita prosa rakyat yang benar-benar dianggap terjadi serta dianggap suci oleh yang mempunyai cerita. Mite  ditokohkan oleh para dewa atau makhluk setengah dewa.

3.      Legenda adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi, tetapi dianggap tidak suci. Contoh Sangkuriang dan Malin Kundang.

4.      Dongeng adalah cerita yang tidak benar-benar terjadi. Contohnya Aji Saka.

5.      Fable adalah cerita yang menceritakan kehidupan hewan yang berperilaku menyerupai manusia. Cerita tersebut tidak mungkin kisah nyata. Fabel adalah cerita fiksi, maksudnya khayalan belaka (fantasi). Kadang fabel memasukkan karakter minoritas berupa manusia. Contoh Kelinci dan Kura-kura, Si Kancil dan Buaya, dan Si Kancil dan Pak Tani.

6.      Sage adalah cerita lama yang berhubungan dengan sejarah, yang menceritakan keberanian, kepahlawanan, kesaktian dan keajaiban seseorang. Beberapa contoh sage, adalah: Calon Arang, Ciung Wanara, Airlangga, Panji, Smaradahana, dll.

7.       Cerita pendek (Cerpen) adalah cerita berbentuk prosa dalam ukuran yang luas yaitu cerita dengan plot dan tema yang kompleks, karakter yang banyak dan setting cerita yang beragam.


8.      Novel adalah suatu cerita dengan alur panjang mengisi satu buku atau lebih, yang mengarang kehidupan manusia, yang bersifat imajinatif, menceritakan kehidupan manusia hingga terjadinya konflik yang dapat menyebabkan perubahan nasib bagi para pelakunya.

Sabtu, 01 April 2017

Penulisan Huruf Kapital atau Huruf Besar yang Benar

Penulisan Huruf Kapital atau Huruf Besar yang Benar


A.  Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada awal kalimat. Misalnya
1) Anak-anak kelas VI sedang belajar kelompok
2) Kita harus selalu berbakti kepada orang lain

B.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung. Misalnya:
1) Adik bertanya, “Kapan kita pulang?”
2) Pak Guru berkata,”Kalian harus rajin belajar setiap hari.”

C.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan. Misalnya:
1) Allah Yang Mahakuasa, Yang Maha Pengasih, Alkitab, Qur’an, Weda, Islam, Kristen.
2) Bimbinglah hamba0Mu, ya Tuhan, ke jalan yang Engkau beri rahmat.

D.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang. Misalnya:
Mahaputra Yamin, Sultan Hasanuddin, Haji Agus Salim, Nabi Ibrahim, Imam Syafi’i

E.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat. Contoh:
Presiden Susilo Bambang Yudoyono, Perdana Menteri Nehru, Profesor Supomo, Laksamana Muda Adisucipto, Gubernur Jawa Tengah.

F.   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur-unsur nama orang. Misalnya:
Ahmad Dahlan, Dewi Sartika, Yos Sudarso, Ampere.

G.  Huruf kapitaldipakai sebagai huruf pertama bangsa, suku bangsa, danbahasa. Misalnya: bangsa Indonesia, suku Sunda, bahasa Inggris.

H.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah. Misalnya: Tahun Hijriyah, tarikh Masehi, bulan Agustus, hari Jumat, hari Galungan, hari Lebaran, hari natal, Perang Diponegoro.

I.    Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
Misalnya:
1) Asia Tenggara, Samudra Hindia, Danau Toba, Dataran Tinggi Dieng
2) Gunung Merapi, Jalan Slamet Riyadi, Kali Brantas, Selat Bali.

J.   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua unsur nama negara, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi, kecuali kata seperti dan. Misalnya:
1) Republik Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat, Departemen.
2) Pendidikan Nasional, Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak.
3) Keputusan Presiden republik Indonesia, Nomor 57, Tahun 1972.

K.  Huruf kapital dipakai huruf pertama setiap unsur bentuk ulang sempurna yang terdapat pada nama badan, lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, serta dokumen resmi. Misalnya:
1) Perserikatan Bangsa-Bangsa.
2) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.
3) Rancangan Undang-Undang.
4) Majelis Permusyawaratan Rakyat

L.   Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata (termasuk unsur kata ulang sempurna) di dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan kecuali kata seperti di, ke, dari, dan, yang, untuk yang tidak terletak pada posisi awal.
Misalnya:
1) Saya telah membaca buku Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma.
2) Bacalah majalah Bahasa dan Sastra
3) Setiap hari ayah membaca surat kabar Kompas.]


M.  Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur singkatan nama gelar, pangkat dan sapaan. Misalnya:
1) Dr.: doctor
2) S.H.: sarjana hukum
3) Prof: profesor
4) Sdr.: saudara